Rumbia di atas kepala saat ini adalah simbol ketidaknyamanan...
dinding papan adalah simbol kesengsaraan....
lantai tanah hanya pijakan pelampiasan..........
pagar alang alang adalah batas strata hidup kaya dan miskin.......
mereka,aku,dia dan kita melihat..
pedulikah???.
sedihkah???
hatiku tak menjawab.....
tangisan lapar pengiring perjalanan saat belajar hidup tak ia dengar....
teriakan cemooh nasib mengiang tak di jadikan harapan...
tanyaku, akankah terus diam???.....
jawabnya...."lalu mau apa".......
aku pernah menjadi berada...lisannya...
lantas roda hidup berikan tanda iya masih berputar...
temanku tak begini di negeri sana...andaikan aku ikut tampaknya akan demikian adanya...
tapi aku cinta tanahku...maka aku disini...
kalau kau bilang aku melawan nasib...menurutku aku belajar hidup...
( kutipan diatas didedikasikan untuk sahabat saya. dia adalah sosok ksatria dalam melawan kerasnya hidup di negeri kita. sosok yang sabar untuk berbagai ujian yang menurutku tak lagi wajar, dulu dia orang berada..bahkan pernah memberiku uang untuk membeli sebuah handphone. dia bangkrut di tipu teman bisnisnya. tak sekedar bangkrut. kini dia hanya tidur di rumah berukuran 3 x 4 m dengan atap jerami dan dinding papan. sendiri. orang tuanya telah lama meninggal. dia yak pernah sudi menerima bantuan dari siapa pun..sabar kawan.ini tentang edukasi yang tak kau dapat dari sekolah atau pun skripsi.) to: Dwijanarko fuady
Tidak ada komentar:
Posting Komentar