Masihkah berani teriak dalam tirani yang terus mengoyak….
Masihkah mampu berlari dalam eratnya belenggu besi dari takdir diri..
Lantang nyayian kini hanya suara teriakan kelaparan dari nafsu yang tak elak di dustai…
Lantas apa alasan yang membuat kau terus bermimipi….
Di tanah basah yang di banjiri air mata darah kita hanya mampu memaki…
Mengapresiasi jeritan murka para ksatria sastra…
Terilhami dari parade murka kau kibarkan bendera yang kau imani akan memakmurkan..
Lalu sebagian darimu mengangkat senjata pertanda perang..
Kemudian mana cinta yang kau nyayikan??
Mana damai yang kau janjikan??
Mana aman yang kau suri teladan kan??
Kita hanya koleksi boneka dari sekumpulan orang di gedung putih..
Sekumpulan mesin pembunuh abad ini…
Berkelakar dengan sejuta dogma palsu..
Lalu dengan satu jari memusnahkan apa yang mereka benci..
Namun harap yang lusuh ini selalu jadi lamunan sebelum tidur…
Lalu berbunga dalam mimpi indah menjelang malam..
Sampai saat membuka mata di pagi hari semuanya kembali…
Kita hanya mampu bermimpi…
by : Yoan Dipo A


